Cerpenku
12-12-2012
Bismillahirrohmanirrohim..
HUTANG
Sebenarnya sudah tiga tahun yang lalu…
“Zain, Inta bukroh lazim ruh Jakarta…!” itulah kalimat yang paling Aku ingat menyengat bak Halilintar seolah segala sesuatu memukulku dengan sekeras-kerasnya sehingga membuatku sulit untuk bernafas, tidak percaya kenyataan ini yang benar-benar menyakitkan, Aku berusaha mengatur nafasku agar berhembus tenang seperti semula dan mencari kata-kata dari Bahasa yang baru Aku pelajari sejak tiga Bulan yang lalu. ”Leis…?” ya, Aku ingat kata itu kata yang memiliki arti kenapa, yang sempat di ajari oleh Om surahman beberapa waktu yang lalu, Om Surahman merupakan teman satu kontrakan, Dia yang paling baik dibanding teman yang lain sesama dari Indonesia, Dia juga sering mengajariku Bahasa dan segala sesuatu yang perlu Aku tahu saat berada disana, Dia seumuran Bapakku menurut ceritanya Dia nekad menjadi TKI karena di Indonesia merupakan daftar Orang yang di cari alias Buronan, tetapi Aku tidak menghiraukan siapa Dia dulu, yang Aku tahu orangnya sangat baik, penyayang dan pengertian seolah menghadirkan sosok Ayah dalam hidup di perantauan. Dia bekerja sebagai Sopir dari majikan yang mungkin bisa dibilang brengsek, bagaimana tidak yang biasanya gaji diterima setiap Bulan malah sampai tujuh Bulan belum juga dibayar, Om Surahman sendiri menutup-nutupi dari gaya dan kata-katanya dia bercerita saat di tanya teman lain tentang gajinya. Kata Dia, Majikannya memiliki bisnis Property di Qatar jadi kalau tidak ada kepentingan si majikan tidak akan pulang, pekerjaan Om Surahman mengantar-jemput semua anak-anak majikannya berangkat ataupun pulang Sekolah dan kadang juga mengantarkan Istri majikannya bila ingin berbelanja ke Pasar atau sekedar jalan-jalan. itulah yang dikerjakan Om Surahman sebagaimana sopir yang lain yang bekerja di Arab Saudi, begitulah setiap harinya. Karena selalu telat membayarkan gajinya sang majikanpun berjanji akan memberikan Bonus hingga seribu real perbulannya apabila dirupiahkan, setara dengan dua juta setengah, jadi kalau digabungkan dengan gajinya yang sebesar seribu lima ratus real maka yang akan diterimanya bisa setara dengan lima juta setengah lebih perbulannya, walaupun diraut Muka Om Surahman seolah ada ketidak yakinan untuk bisa dibayar.
Telingaku panas..tidak ada yang menghiraukan keadaanku seperti Bumi dan Langit tidak lagi tersenyum sebagaimana keberangkatanku dulu, habis sudah harapanku, habis sudah mimpi indahku hancur mengikuti tetesan Airmata ini. Maafkan aku Ummi…aku belum bisa mengembalikan Uangmu…Uang yang kau pinjam dari Rentenir…demi mewujudkan mimpiku…maafkan Aku… Aku mengecewakanmu… Aku hanya menyusahkanmu saja…dari kecil sampai sekarang belum bisa membahagiakanmu…
“Kaifa inta Zain,…Inta maklum Ana…!” kata majikanku terdengar sedikit keras, membuyarkan ingatanku kepada Ummi Ibuku, majikanku bernama Abdullah Turky Assalum salah satu dari keluarga Assalum yang memang terkenal kesuksesannya dalam bidang bisnis jual-beli di kota Unaizah, Al Qazim yang merupakn kota dimana Aku bekerja, sehingga nama Assalum tidak asing lagi di Telinga seluruh bangsa Arab. Khususnya di kota Al Qazim, Memang dua hari yang lalu ada Orang dari Pemerintahan setempat memberikan sebuah Surat pada majikan yang isinya memberitahukan bahwa Toko yang Aku tempati bekerja akan di gusur untuk dijadikan Jalan Umum, Aku bisa mengerti pejelasan majikan setelah Ia beberapa kali mengungkapkan dengan Bahasa Isyarat. ”Inta mafi faedah fi hinak…, muskil Ana jib Inta rattib, Inta mafi sugul…!” kata majikan menerangkan, Aku rubah posisi dudukku agar tidak kelihatan Cengeng di Mata majikanku, sedih yang teramat sangat Aku rasakan saat ini, Aku hanya ingat Ummi Ibuku, betapa kecewanya Dia, memiliki Anak yang tidak berguna. “Ana ibge sugul sani….!” Kataku memberanikan dengan suara berat dan gemetar, berusaha untuk menyembunyikan sedih ini pada saat Aku menatapnya, “La’..!” kata majikanku respon tidak setuju,” Orang Arab itu gengsinya gede zain..!, Dia tidak mungkin memindahkanmu ke majikan lain walau itu saudaranya sendiri, karena menurutnya, itu sama dengan menurunkan drajatnya”. Kata-kata Om Surahman terngiang di Benakku.
Aku beranjak dari tempat dudukku keluar dari ruangan dimana majikanku memanggilku, ruangan yang berada didalam sudut toko, agak sempit namun cukup nyaman untuk berlama-lama disana, satu meja lengkap dengan komputernya dimana biasanya majikanku duduk, dan didepanya ada dua kursi sofa panjang berhadap-hadapan, cukup untuk diduduki enam orang dewasa, di Toko inilah majikanku memperkerjakanku, Toko yang menjual segala macam gula, dengan ruangan yang tidak begitu besar namun cukup menyibukanku setiap harinya mulai menyapu, mengepel, merapikan barang hingga melayani pelanggan yang Aku lakukan sendirian. Aku berdiri di antara rak-rak gula dengan segala macam warna dan bentuk, memandangi gula yang sudah di bentuk menyerupai Lebah, sungguh manis bentukmu tentu juga rasamu, namun tidak untuk hidupku, yang terasa sangat pahit, seluruh Otakku terasa kaku, Telingakupun terasa tuli, Aku tak mampulagi bergerak, yang ada hanya suara demisuara menamparku, suara yang menyakiti Jiwa ini, “baru tiga Bulan kamu bekerja disini…sudah mau pulang…!”, “ingat keberangkatanmu kesini tidak gratis…!”, “tega kamu pulang tidak membawa Uang..!”, “Uang dari mana Ibumu bisa membayarnya…memangnya Ibumu kerja apa…?!”, suara-suara itu terus menerus menghantamku membuatku tidak mampu lagi menahan aliran derasnya Airmata sehingga Aku tidak kuasa untuk berkedip.
Tidak lama berselang majikanku keluar dan memanggilku, Aku cepat-cepat mengusap Airmata ini dan menahannya agar tidak tumpah sehingga membuat Dada ini bertambah sesak. “Zain…halas sugul, Ana fi hinak, Inta ila Bait alhin…!” katanya yakin, Aku disuruhnya pulang lebih awal agar membereskan barang-barangku agar besok sudah bisa langsung berangkat, semangatku hilang, hidupku tidak berguna lagi, semua terasa hampa, jalanku lunglai ingin rasanya lari dari kenyataan ini tetapi Aku tidak mau putus dari rahmat Tuhan, Aku ingin menjadi Orang yang selamat. “Bagaiman jika aku lari saja dari Abdullah turky mencari sendiri majikan baru..?” tanyaku kepada Om, saat bertemu di kontrakan, “tolong bantu Aku Om..!” rengekku, dia menatapku sangat dalam “bukannya aku tidak kasihan Zain kepadamu, tapi Aku bisa apa..?” “percuma kamu lari bila Paspor masih ditangan majikamu..!” “itu namanya kamu cari masalah..!” kata Om tegas, Teman-temanku tidak ada yang bisa menolongku, Mereka semua cuma bisa bersedih akan kepergianku. “Sabar zain…, kalau Kamu mau, pasti ada jalan, Tuhan akan memanggilmu lagi dengan majikan yang lebih baik…!” suara Om, saat merangkulku sebagai salam perpisahan.
Perjalananku dari Kota Unaizah Al Qazim naik Bus menuju bandara King Abdul Aziz di Kota Riyadh, semua penumpang Bus bersuka-cita dengan barang bawaan yang banyak dengan Tas-tas besar, semua merupakan para TKI yang pulang karena sudah habis kontrak dengan majikannya atau sedang cuti, kecuali Aku yang pulang dengan tidak membawa apa-apa melainkan membawa kesedihan dan kekecewaan yang teramat sangat, yang dipulangkan sebelum selesai kontrak , samapai memasuki Pesawat Abudabi Airlines dengan sapaan para Pramugari yang kecantikannya diatas rata-rata tidak dapat mengurangi kesedihan hati ini sedikitpun, malah senyum yang Aku paksakan terasa sangat pahit. Pikiranku melayang hampa kurang lebih delapan jam, tidak terasa Pesawat yang Aku tumpangi sudah tiba di Negaraku, Negara yang tak pernah menghiraukan para Warga Negaranya, oleh sebab itulah yang membuat para Warga Negaranya harus bersusah payah mencari kerja di Negara Orang, padahal yang Aku tahu Negara ini Negara yang besar tetapi selalu sibuk dengan masalah Korupsi, Negara yang selalu sibuk dengan Politik yang katanya demi Masyarakat, tetapi sudahlah Aku tidak mau menambah kesedihan Hati ini dengan memikirkan Negara yang kaya tapi sangat miskin ini. Sebelum Aku keluar dari Bandara Soekarno-Hatta, Aku sempatkan menghadap Tuhan di Musolla, Aku tumpahkan segala kesedihan ini dalam setiap Sujudku, Aku ungkapkan segalanya, walau Aku sadar Tuhan Maha tahu, entah kenapa Aku sangat berharap ada yang menjawab semua pertanyaan dalam dada ini dan ada yang memperdulikan keadaanku saat ini, Aku butuh perhatian-Mu, Aku tengadahkan Muka dan kedua Tanganku kepada-Mu, Aku tidak bisa lagi mengontrol tangisanku yang bertambah keras, namun tidak ada sesuatupun yang bertanya akan kesedihan ini, Dinding, Lantai, Karpet Permadani masih saja dalam kebisuannya. Bahkan Orang-orang disana tidak ada satupun yang menghiraukan.
“Ya Tuhan, kenapa Engkau pulangkan Hamba sebelum Hamba bisa melunasi hutang Ibu Hamba, apa yang dilakukannya demi hamba, bukankah Engkau Maha tahu?!”,
“Kenapa Engkau pulangkan Hamba sebelum mewujudkan cita-cita Hamba untuk semua Keluarga Hamba agar bisa beribadah dibait-Mu, bukankah Engkau Maha tahu?!”,
Kenapa Engkau berangkatkan Hamba bekerja ke Tanah Arab bila yang terjadi harus pulang tanpa membawa Kesuksesan, semoga hamba bisa tetap tunduk dan pasrah pada-Mu”, Tuhan yang mengetahui segala Rahasia.
Airmata ini terus mengalir mengeluarkan suara sesenggukan yang semakin keras, Aku ingin rasanya menjerit sekeras-kerasnya namun Aku tidak mau disebut Orang Gila. Beberapa waktu kemudian pelan-pelan Aku mendapat sedikit ketenangan, kesejukan entah Aku tidak mengerti darimana asalnya, Aku berusaha untuk melihat Tuhan di Atap ruangan Musolla, walaupun Aku tahu Aku tidak mungkin bisa melihatnya tetapi Aku merasa yakin Tuhan melihatku dengan segala kesedihan ini. Tangisan dan sesenggukan berangsur-angsur mereda. Setelah Aku merasakan suara yang tidak dapat didengar oleh Indera Pendengaran melainkan dapat dengan jelas dirasakan oleh Hati yang ada dalam Dada ini, “ada sesuatu yang akan terjadi, yang menjadikan kepulanganmu ini adalah sebagian kecil dari kebaikan Tuhanmu..!” kalimat itu yang terbaca dalam Dada ini.
Ibuku langsung memelukku setelah Aku cium Tangannya, “Alhamdulillah kamu sudah sampai Nak, dengan selamat…!” sapanya, Airmata ini tidak tertahankan lagi untuk mengalir, pikiranku berkecamuk antara bahagia dan kecewa. tiba lagi ditanah air, tetapi membawa kesedihan dan ketidak suksesan pulang seolah dipersembahkan kepada Ummi Ibu tercinta yang melahirkanku, manusia yang paling menyayangiku, manusia yang menumbuhkan segala harapan dalam hidupku, yang selalu mendekapku saat pahit getir hidup melanda. “sudah..sudah, jangan menangis lagi..! jangan terlalu dipikirkan, Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik buat setiap Hambanya..!” kata Ummi sembari mengusap Punggungku.
Dipertengahan Bulan Romadhon saat puasa sudah ditunaikan selama lima belas hari pada Tahun dua ribu sepuluh, kurang lebih tiga bulan dari kepulanganku dari Tanah Arab sesuatu itupun terjadi. Kejadian yang tidak pernah akan aku lupakan sepanjang hidupku, merasakan saat-saat terakhir dengan Ummi Ibuku, Dia menutup Mata untuk selama-lamanya, Terimakasih Tuhan Engkau berikan Aku kesempatan berada disisi Ummi Ibuku, pada saat-saat menjelang Ajalnya, betapa menyesalnya jika Aku masih tetap berada di Tanah Arab karena menunggu habisnya kontrak kerja dengan Majikan tanpa bisa merawat sedikitpun Orang yang paling Aku sayangi, Orang yang paling Aku cintai, Orang yang segala-galanya bagiku di Jagad Raya ini.
Dia sakit, sudah dua Rumah Sakit Ummi dirawat namun belum juga ada perkembangan sedikitpun, melihat Ummi yang selalu tegar, yang selalu kuat menjalani bagaimanapun beratnya hidup, Aku tidak percaya melihat kondisinya sekarang, terbaring tidak berdaya untuk bergerak sedikitpun, hatiku hancur berkeping-keping, Aku kalut, Aku hanya bisa menangis dan berdoa agar segera sembuh tetapi Tuhan jua yang menentukan kehendak-Nya. Aku tidak memiliki kuasa sedikitpun akan hidup ini, Aku peluk Tubuhmu, Aku cium Pipimu, Aku kecup Keningmu yang sudah terasa dingin, Aku gemetar, Lidahku kaku, Tubuhku panas serasa dipanggang di Bara Api, Aku tak percaya kenyataan ini, “jangan pergi dulu Ummi.. Aku belum membahagiakanmu..!” “Aku belum mintak maaf kepadamu..!” ucapku serak, Aku kosong, Mataku gelap seolah sukmaku lari sejauh-jauhnya tidak kuasa lagi menerima kesedihan yang sangat dahsyat ini, siapa lagi yang bisa menyayangiku sepertimu, siapa lagi yang bisa mencintaiku sepertimu, siapa lagi yang bisa mendekapku saat kesedihan itu datang. Itulah saat terakhir Aku melihat Ummi Ibuku, Aku akan selalu mendoakanmu Ummi, Aku akan selalu mengingatmu Ummi dengan segala kenangan indah bersamamu. Semoga Engkau mendapat tempat yang tinggi disisi-Nya. Selamat jalan Ummi, aku tidak akan pernah berputus asa menggapai mimpiku untukmu Ummi, beberapa bulan kemudian, akhirnya Aku bisa melunasi hutang biaya keberangkatanku ke Arab. Aku yakin engkau juga bahagia disana akan hal ini.
kasih komentarx ya....Makasih mau baca cerpenku...
12-12-2012
Bismillahirrohmanirrohim..
HUTANG
Sebenarnya sudah tiga tahun yang lalu…
“Zain, Inta bukroh lazim ruh Jakarta…!” itulah kalimat yang paling Aku ingat menyengat bak Halilintar seolah segala sesuatu memukulku dengan sekeras-kerasnya sehingga membuatku sulit untuk bernafas, tidak percaya kenyataan ini yang benar-benar menyakitkan, Aku berusaha mengatur nafasku agar berhembus tenang seperti semula dan mencari kata-kata dari Bahasa yang baru Aku pelajari sejak tiga Bulan yang lalu. ”Leis…?” ya, Aku ingat kata itu kata yang memiliki arti kenapa, yang sempat di ajari oleh Om surahman beberapa waktu yang lalu, Om Surahman merupakan teman satu kontrakan, Dia yang paling baik dibanding teman yang lain sesama dari Indonesia, Dia juga sering mengajariku Bahasa dan segala sesuatu yang perlu Aku tahu saat berada disana, Dia seumuran Bapakku menurut ceritanya Dia nekad menjadi TKI karena di Indonesia merupakan daftar Orang yang di cari alias Buronan, tetapi Aku tidak menghiraukan siapa Dia dulu, yang Aku tahu orangnya sangat baik, penyayang dan pengertian seolah menghadirkan sosok Ayah dalam hidup di perantauan. Dia bekerja sebagai Sopir dari majikan yang mungkin bisa dibilang brengsek, bagaimana tidak yang biasanya gaji diterima setiap Bulan malah sampai tujuh Bulan belum juga dibayar, Om Surahman sendiri menutup-nutupi dari gaya dan kata-katanya dia bercerita saat di tanya teman lain tentang gajinya. Kata Dia, Majikannya memiliki bisnis Property di Qatar jadi kalau tidak ada kepentingan si majikan tidak akan pulang, pekerjaan Om Surahman mengantar-jemput semua anak-anak majikannya berangkat ataupun pulang Sekolah dan kadang juga mengantarkan Istri majikannya bila ingin berbelanja ke Pasar atau sekedar jalan-jalan. itulah yang dikerjakan Om Surahman sebagaimana sopir yang lain yang bekerja di Arab Saudi, begitulah setiap harinya. Karena selalu telat membayarkan gajinya sang majikanpun berjanji akan memberikan Bonus hingga seribu real perbulannya apabila dirupiahkan, setara dengan dua juta setengah, jadi kalau digabungkan dengan gajinya yang sebesar seribu lima ratus real maka yang akan diterimanya bisa setara dengan lima juta setengah lebih perbulannya, walaupun diraut Muka Om Surahman seolah ada ketidak yakinan untuk bisa dibayar.
Telingaku panas..tidak ada yang menghiraukan keadaanku seperti Bumi dan Langit tidak lagi tersenyum sebagaimana keberangkatanku dulu, habis sudah harapanku, habis sudah mimpi indahku hancur mengikuti tetesan Airmata ini. Maafkan aku Ummi…aku belum bisa mengembalikan Uangmu…Uang yang kau pinjam dari Rentenir…demi mewujudkan mimpiku…maafkan Aku… Aku mengecewakanmu… Aku hanya menyusahkanmu saja…dari kecil sampai sekarang belum bisa membahagiakanmu…
“Kaifa inta Zain,…Inta maklum Ana…!” kata majikanku terdengar sedikit keras, membuyarkan ingatanku kepada Ummi Ibuku, majikanku bernama Abdullah Turky Assalum salah satu dari keluarga Assalum yang memang terkenal kesuksesannya dalam bidang bisnis jual-beli di kota Unaizah, Al Qazim yang merupakn kota dimana Aku bekerja, sehingga nama Assalum tidak asing lagi di Telinga seluruh bangsa Arab. Khususnya di kota Al Qazim, Memang dua hari yang lalu ada Orang dari Pemerintahan setempat memberikan sebuah Surat pada majikan yang isinya memberitahukan bahwa Toko yang Aku tempati bekerja akan di gusur untuk dijadikan Jalan Umum, Aku bisa mengerti pejelasan majikan setelah Ia beberapa kali mengungkapkan dengan Bahasa Isyarat. ”Inta mafi faedah fi hinak…, muskil Ana jib Inta rattib, Inta mafi sugul…!” kata majikan menerangkan, Aku rubah posisi dudukku agar tidak kelihatan Cengeng di Mata majikanku, sedih yang teramat sangat Aku rasakan saat ini, Aku hanya ingat Ummi Ibuku, betapa kecewanya Dia, memiliki Anak yang tidak berguna. “Ana ibge sugul sani….!” Kataku memberanikan dengan suara berat dan gemetar, berusaha untuk menyembunyikan sedih ini pada saat Aku menatapnya, “La’..!” kata majikanku respon tidak setuju,” Orang Arab itu gengsinya gede zain..!, Dia tidak mungkin memindahkanmu ke majikan lain walau itu saudaranya sendiri, karena menurutnya, itu sama dengan menurunkan drajatnya”. Kata-kata Om Surahman terngiang di Benakku.
Aku beranjak dari tempat dudukku keluar dari ruangan dimana majikanku memanggilku, ruangan yang berada didalam sudut toko, agak sempit namun cukup nyaman untuk berlama-lama disana, satu meja lengkap dengan komputernya dimana biasanya majikanku duduk, dan didepanya ada dua kursi sofa panjang berhadap-hadapan, cukup untuk diduduki enam orang dewasa, di Toko inilah majikanku memperkerjakanku, Toko yang menjual segala macam gula, dengan ruangan yang tidak begitu besar namun cukup menyibukanku setiap harinya mulai menyapu, mengepel, merapikan barang hingga melayani pelanggan yang Aku lakukan sendirian. Aku berdiri di antara rak-rak gula dengan segala macam warna dan bentuk, memandangi gula yang sudah di bentuk menyerupai Lebah, sungguh manis bentukmu tentu juga rasamu, namun tidak untuk hidupku, yang terasa sangat pahit, seluruh Otakku terasa kaku, Telingakupun terasa tuli, Aku tak mampulagi bergerak, yang ada hanya suara demisuara menamparku, suara yang menyakiti Jiwa ini, “baru tiga Bulan kamu bekerja disini…sudah mau pulang…!”, “ingat keberangkatanmu kesini tidak gratis…!”, “tega kamu pulang tidak membawa Uang..!”, “Uang dari mana Ibumu bisa membayarnya…memangnya Ibumu kerja apa…?!”, suara-suara itu terus menerus menghantamku membuatku tidak mampu lagi menahan aliran derasnya Airmata sehingga Aku tidak kuasa untuk berkedip.
Tidak lama berselang majikanku keluar dan memanggilku, Aku cepat-cepat mengusap Airmata ini dan menahannya agar tidak tumpah sehingga membuat Dada ini bertambah sesak. “Zain…halas sugul, Ana fi hinak, Inta ila Bait alhin…!” katanya yakin, Aku disuruhnya pulang lebih awal agar membereskan barang-barangku agar besok sudah bisa langsung berangkat, semangatku hilang, hidupku tidak berguna lagi, semua terasa hampa, jalanku lunglai ingin rasanya lari dari kenyataan ini tetapi Aku tidak mau putus dari rahmat Tuhan, Aku ingin menjadi Orang yang selamat. “Bagaiman jika aku lari saja dari Abdullah turky mencari sendiri majikan baru..?” tanyaku kepada Om, saat bertemu di kontrakan, “tolong bantu Aku Om..!” rengekku, dia menatapku sangat dalam “bukannya aku tidak kasihan Zain kepadamu, tapi Aku bisa apa..?” “percuma kamu lari bila Paspor masih ditangan majikamu..!” “itu namanya kamu cari masalah..!” kata Om tegas, Teman-temanku tidak ada yang bisa menolongku, Mereka semua cuma bisa bersedih akan kepergianku. “Sabar zain…, kalau Kamu mau, pasti ada jalan, Tuhan akan memanggilmu lagi dengan majikan yang lebih baik…!” suara Om, saat merangkulku sebagai salam perpisahan.
Perjalananku dari Kota Unaizah Al Qazim naik Bus menuju bandara King Abdul Aziz di Kota Riyadh, semua penumpang Bus bersuka-cita dengan barang bawaan yang banyak dengan Tas-tas besar, semua merupakan para TKI yang pulang karena sudah habis kontrak dengan majikannya atau sedang cuti, kecuali Aku yang pulang dengan tidak membawa apa-apa melainkan membawa kesedihan dan kekecewaan yang teramat sangat, yang dipulangkan sebelum selesai kontrak , samapai memasuki Pesawat Abudabi Airlines dengan sapaan para Pramugari yang kecantikannya diatas rata-rata tidak dapat mengurangi kesedihan hati ini sedikitpun, malah senyum yang Aku paksakan terasa sangat pahit. Pikiranku melayang hampa kurang lebih delapan jam, tidak terasa Pesawat yang Aku tumpangi sudah tiba di Negaraku, Negara yang tak pernah menghiraukan para Warga Negaranya, oleh sebab itulah yang membuat para Warga Negaranya harus bersusah payah mencari kerja di Negara Orang, padahal yang Aku tahu Negara ini Negara yang besar tetapi selalu sibuk dengan masalah Korupsi, Negara yang selalu sibuk dengan Politik yang katanya demi Masyarakat, tetapi sudahlah Aku tidak mau menambah kesedihan Hati ini dengan memikirkan Negara yang kaya tapi sangat miskin ini. Sebelum Aku keluar dari Bandara Soekarno-Hatta, Aku sempatkan menghadap Tuhan di Musolla, Aku tumpahkan segala kesedihan ini dalam setiap Sujudku, Aku ungkapkan segalanya, walau Aku sadar Tuhan Maha tahu, entah kenapa Aku sangat berharap ada yang menjawab semua pertanyaan dalam dada ini dan ada yang memperdulikan keadaanku saat ini, Aku butuh perhatian-Mu, Aku tengadahkan Muka dan kedua Tanganku kepada-Mu, Aku tidak bisa lagi mengontrol tangisanku yang bertambah keras, namun tidak ada sesuatupun yang bertanya akan kesedihan ini, Dinding, Lantai, Karpet Permadani masih saja dalam kebisuannya. Bahkan Orang-orang disana tidak ada satupun yang menghiraukan.
“Ya Tuhan, kenapa Engkau pulangkan Hamba sebelum Hamba bisa melunasi hutang Ibu Hamba, apa yang dilakukannya demi hamba, bukankah Engkau Maha tahu?!”,
“Kenapa Engkau pulangkan Hamba sebelum mewujudkan cita-cita Hamba untuk semua Keluarga Hamba agar bisa beribadah dibait-Mu, bukankah Engkau Maha tahu?!”,
Kenapa Engkau berangkatkan Hamba bekerja ke Tanah Arab bila yang terjadi harus pulang tanpa membawa Kesuksesan, semoga hamba bisa tetap tunduk dan pasrah pada-Mu”, Tuhan yang mengetahui segala Rahasia.
Airmata ini terus mengalir mengeluarkan suara sesenggukan yang semakin keras, Aku ingin rasanya menjerit sekeras-kerasnya namun Aku tidak mau disebut Orang Gila. Beberapa waktu kemudian pelan-pelan Aku mendapat sedikit ketenangan, kesejukan entah Aku tidak mengerti darimana asalnya, Aku berusaha untuk melihat Tuhan di Atap ruangan Musolla, walaupun Aku tahu Aku tidak mungkin bisa melihatnya tetapi Aku merasa yakin Tuhan melihatku dengan segala kesedihan ini. Tangisan dan sesenggukan berangsur-angsur mereda. Setelah Aku merasakan suara yang tidak dapat didengar oleh Indera Pendengaran melainkan dapat dengan jelas dirasakan oleh Hati yang ada dalam Dada ini, “ada sesuatu yang akan terjadi, yang menjadikan kepulanganmu ini adalah sebagian kecil dari kebaikan Tuhanmu..!” kalimat itu yang terbaca dalam Dada ini.
Ibuku langsung memelukku setelah Aku cium Tangannya, “Alhamdulillah kamu sudah sampai Nak, dengan selamat…!” sapanya, Airmata ini tidak tertahankan lagi untuk mengalir, pikiranku berkecamuk antara bahagia dan kecewa. tiba lagi ditanah air, tetapi membawa kesedihan dan ketidak suksesan pulang seolah dipersembahkan kepada Ummi Ibu tercinta yang melahirkanku, manusia yang paling menyayangiku, manusia yang menumbuhkan segala harapan dalam hidupku, yang selalu mendekapku saat pahit getir hidup melanda. “sudah..sudah, jangan menangis lagi..! jangan terlalu dipikirkan, Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik buat setiap Hambanya..!” kata Ummi sembari mengusap Punggungku.
Dipertengahan Bulan Romadhon saat puasa sudah ditunaikan selama lima belas hari pada Tahun dua ribu sepuluh, kurang lebih tiga bulan dari kepulanganku dari Tanah Arab sesuatu itupun terjadi. Kejadian yang tidak pernah akan aku lupakan sepanjang hidupku, merasakan saat-saat terakhir dengan Ummi Ibuku, Dia menutup Mata untuk selama-lamanya, Terimakasih Tuhan Engkau berikan Aku kesempatan berada disisi Ummi Ibuku, pada saat-saat menjelang Ajalnya, betapa menyesalnya jika Aku masih tetap berada di Tanah Arab karena menunggu habisnya kontrak kerja dengan Majikan tanpa bisa merawat sedikitpun Orang yang paling Aku sayangi, Orang yang paling Aku cintai, Orang yang segala-galanya bagiku di Jagad Raya ini.
Dia sakit, sudah dua Rumah Sakit Ummi dirawat namun belum juga ada perkembangan sedikitpun, melihat Ummi yang selalu tegar, yang selalu kuat menjalani bagaimanapun beratnya hidup, Aku tidak percaya melihat kondisinya sekarang, terbaring tidak berdaya untuk bergerak sedikitpun, hatiku hancur berkeping-keping, Aku kalut, Aku hanya bisa menangis dan berdoa agar segera sembuh tetapi Tuhan jua yang menentukan kehendak-Nya. Aku tidak memiliki kuasa sedikitpun akan hidup ini, Aku peluk Tubuhmu, Aku cium Pipimu, Aku kecup Keningmu yang sudah terasa dingin, Aku gemetar, Lidahku kaku, Tubuhku panas serasa dipanggang di Bara Api, Aku tak percaya kenyataan ini, “jangan pergi dulu Ummi.. Aku belum membahagiakanmu..!” “Aku belum mintak maaf kepadamu..!” ucapku serak, Aku kosong, Mataku gelap seolah sukmaku lari sejauh-jauhnya tidak kuasa lagi menerima kesedihan yang sangat dahsyat ini, siapa lagi yang bisa menyayangiku sepertimu, siapa lagi yang bisa mencintaiku sepertimu, siapa lagi yang bisa mendekapku saat kesedihan itu datang. Itulah saat terakhir Aku melihat Ummi Ibuku, Aku akan selalu mendoakanmu Ummi, Aku akan selalu mengingatmu Ummi dengan segala kenangan indah bersamamu. Semoga Engkau mendapat tempat yang tinggi disisi-Nya. Selamat jalan Ummi, aku tidak akan pernah berputus asa menggapai mimpiku untukmu Ummi, beberapa bulan kemudian, akhirnya Aku bisa melunasi hutang biaya keberangkatanku ke Arab. Aku yakin engkau juga bahagia disana akan hal ini.
kasih komentarx ya....Makasih mau baca cerpenku...