Sabtu, 09 November 2013

Hutang

Cerpenku
12-12-2012
Bismillahirrohmanirrohim..
HUTANG
Sebenarnya sudah tiga tahun yang lalu…
“Zain, Inta bukroh lazim ruh Jakarta…!” itulah kalimat yang paling Aku ingat menyengat bak Halilintar seolah segala sesuatu memukulku dengan sekeras-kerasnya sehingga membuatku sulit untuk bernafas, tidak percaya kenyataan ini yang benar-benar menyakitkan, Aku berusaha mengatur nafasku agar berhembus tenang seperti semula dan mencari kata-kata dari Bahasa yang baru Aku pelajari sejak tiga Bulan yang lalu. ”Leis…?” ya, Aku ingat kata  itu kata yang memiliki arti kenapa, yang sempat di ajari oleh Om surahman beberapa waktu yang lalu, Om Surahman merupakan teman satu kontrakan, Dia yang paling baik dibanding teman yang lain sesama dari Indonesia, Dia juga  sering mengajariku Bahasa dan segala sesuatu yang perlu Aku tahu saat berada disana, Dia seumuran Bapakku menurut ceritanya Dia nekad menjadi TKI karena di Indonesia merupakan daftar Orang yang di cari alias Buronan, tetapi Aku tidak menghiraukan siapa Dia dulu, yang Aku tahu orangnya sangat baik, penyayang dan pengertian seolah menghadirkan sosok Ayah dalam hidup di perantauan. Dia bekerja sebagai Sopir dari majikan yang mungkin bisa dibilang brengsek, bagaimana tidak yang biasanya gaji diterima setiap Bulan malah sampai tujuh Bulan belum juga dibayar, Om Surahman sendiri menutup-nutupi  dari gaya dan kata-katanya  dia bercerita saat di tanya teman lain tentang gajinya. Kata Dia, Majikannya memiliki bisnis Property di Qatar jadi kalau tidak ada kepentingan  si majikan tidak akan pulang, pekerjaan Om Surahman mengantar-jemput semua anak-anak majikannya berangkat ataupun pulang Sekolah dan kadang juga mengantarkan Istri majikannya bila ingin berbelanja ke Pasar atau sekedar jalan-jalan. itulah yang dikerjakan Om Surahman sebagaimana sopir yang lain yang bekerja di Arab Saudi, begitulah setiap harinya. Karena selalu telat membayarkan gajinya sang majikanpun berjanji akan memberikan Bonus hingga seribu real perbulannya apabila dirupiahkan, setara dengan dua juta setengah, jadi kalau digabungkan dengan gajinya yang sebesar seribu lima ratus real maka yang akan diterimanya bisa setara dengan lima juta setengah lebih perbulannya, walaupun diraut Muka Om Surahman seolah ada ketidak yakinan untuk bisa dibayar.
Telingaku panas..tidak ada yang menghiraukan keadaanku seperti Bumi dan Langit tidak lagi tersenyum sebagaimana keberangkatanku dulu, habis sudah harapanku, habis sudah mimpi indahku hancur mengikuti tetesan Airmata ini. Maafkan aku Ummi…aku belum bisa mengembalikan Uangmu…Uang yang kau pinjam dari Rentenir…demi mewujudkan mimpiku…maafkan Aku… Aku mengecewakanmu… Aku hanya menyusahkanmu saja…dari kecil sampai sekarang belum bisa membahagiakanmu…
“Kaifa inta Zain,…Inta maklum Ana…!” kata majikanku terdengar sedikit keras, membuyarkan ingatanku kepada Ummi Ibuku, majikanku bernama Abdullah Turky Assalum salah satu dari keluarga Assalum yang memang terkenal kesuksesannya dalam  bidang bisnis jual-beli di kota Unaizah, Al Qazim yang merupakn kota dimana Aku bekerja, sehingga nama Assalum tidak asing lagi di Telinga  seluruh bangsa Arab. Khususnya di kota Al Qazim, Memang dua hari yang lalu ada Orang dari Pemerintahan setempat memberikan sebuah Surat pada majikan yang isinya memberitahukan bahwa Toko yang Aku tempati bekerja akan di gusur untuk dijadikan Jalan Umum, Aku bisa mengerti pejelasan majikan setelah Ia beberapa kali  mengungkapkan dengan Bahasa Isyarat. ”Inta mafi faedah fi hinak…, muskil Ana jib Inta rattib, Inta mafi sugul…!” kata majikan menerangkan, Aku rubah posisi dudukku agar tidak kelihatan Cengeng di Mata majikanku, sedih yang  teramat sangat Aku rasakan saat ini, Aku hanya ingat Ummi Ibuku, betapa kecewanya Dia,   memiliki Anak yang tidak berguna. “Ana ibge sugul sani….!” Kataku memberanikan dengan suara berat dan gemetar, berusaha untuk menyembunyikan sedih ini pada saat Aku menatapnya, “La’..!” kata majikanku respon tidak setuju,” Orang Arab itu gengsinya gede zain..!, Dia tidak mungkin memindahkanmu ke majikan lain walau itu saudaranya sendiri, karena menurutnya, itu sama dengan menurunkan drajatnya”. Kata-kata  Om Surahman terngiang di Benakku.
Aku beranjak  dari tempat dudukku keluar dari ruangan dimana majikanku memanggilku, ruangan yang berada didalam sudut toko, agak sempit namun cukup nyaman untuk berlama-lama disana, satu meja lengkap dengan komputernya dimana biasanya majikanku duduk, dan didepanya ada dua kursi sofa panjang berhadap-hadapan, cukup untuk diduduki enam orang dewasa, di Toko inilah majikanku memperkerjakanku, Toko yang menjual segala macam gula, dengan ruangan yang tidak begitu besar  namun cukup menyibukanku setiap harinya mulai menyapu, mengepel, merapikan barang hingga melayani pelanggan yang Aku lakukan sendirian. Aku berdiri di antara rak-rak gula dengan segala macam warna dan bentuk, memandangi gula yang sudah di bentuk menyerupai Lebah, sungguh manis bentukmu tentu juga  rasamu, namun tidak untuk hidupku, yang terasa sangat pahit, seluruh Otakku terasa kaku, Telingakupun terasa tuli, Aku tak mampulagi bergerak, yang ada hanya suara demisuara menamparku, suara yang menyakiti Jiwa ini, “baru tiga Bulan kamu bekerja disini…sudah mau pulang…!”, “ingat keberangkatanmu kesini tidak gratis…!”, “tega kamu pulang tidak membawa Uang..!”, “Uang dari mana Ibumu bisa membayarnya…memangnya  Ibumu kerja apa…?!”, suara-suara itu terus menerus menghantamku membuatku tidak mampu lagi menahan aliran derasnya Airmata sehingga Aku tidak kuasa untuk berkedip.
Tidak lama berselang majikanku keluar dan memanggilku, Aku cepat-cepat mengusap Airmata ini dan menahannya agar tidak tumpah sehingga membuat Dada ini bertambah sesak. “Zain…halas sugul, Ana fi hinak, Inta ila Bait alhin…!” katanya yakin, Aku disuruhnya pulang lebih awal agar membereskan barang-barangku agar besok sudah bisa langsung berangkat, semangatku hilang, hidupku tidak berguna lagi, semua terasa hampa, jalanku lunglai ingin rasanya lari dari kenyataan ini tetapi Aku tidak mau putus dari rahmat Tuhan, Aku ingin menjadi Orang yang selamat. “Bagaiman jika aku lari saja dari Abdullah turky mencari sendiri  majikan baru..?” tanyaku kepada Om, saat bertemu di kontrakan, “tolong bantu Aku Om..!” rengekku, dia menatapku sangat dalam “bukannya aku tidak kasihan Zain kepadamu, tapi Aku bisa apa..?” “percuma kamu lari bila Paspor masih ditangan majikamu..!” “itu namanya kamu cari masalah..!” kata Om tegas, Teman-temanku tidak ada yang bisa menolongku,  Mereka semua cuma bisa bersedih akan kepergianku. “Sabar zain…, kalau Kamu mau, pasti ada jalan, Tuhan akan memanggilmu lagi dengan majikan yang lebih baik…!” suara Om, saat merangkulku sebagai salam perpisahan.
Perjalananku dari Kota Unaizah Al Qazim naik Bus menuju bandara King Abdul Aziz di Kota Riyadh, semua penumpang Bus bersuka-cita dengan barang bawaan yang banyak dengan Tas-tas besar, semua merupakan para TKI yang pulang karena sudah habis kontrak dengan majikannya atau sedang cuti, kecuali Aku yang pulang dengan tidak membawa apa-apa melainkan membawa kesedihan dan kekecewaan yang teramat sangat, yang dipulangkan sebelum selesai kontrak , samapai memasuki Pesawat Abudabi Airlines dengan sapaan para Pramugari yang kecantikannya diatas rata-rata tidak dapat mengurangi kesedihan hati ini sedikitpun, malah senyum yang Aku paksakan terasa sangat pahit. Pikiranku melayang hampa kurang lebih delapan jam, tidak terasa Pesawat yang Aku tumpangi sudah tiba di Negaraku, Negara yang tak pernah menghiraukan para Warga Negaranya, oleh sebab itulah yang membuat para Warga Negaranya  harus bersusah payah mencari kerja di Negara Orang, padahal yang Aku tahu Negara ini Negara yang besar  tetapi selalu  sibuk dengan masalah Korupsi, Negara yang selalu sibuk dengan Politik yang katanya demi Masyarakat, tetapi sudahlah Aku  tidak mau menambah kesedihan Hati  ini dengan memikirkan Negara yang kaya tapi sangat miskin ini. Sebelum Aku keluar dari Bandara Soekarno-Hatta, Aku sempatkan menghadap Tuhan di Musolla, Aku tumpahkan segala kesedihan ini dalam setiap Sujudku, Aku ungkapkan segalanya,  walau Aku sadar Tuhan Maha tahu,  entah kenapa Aku sangat berharap ada yang menjawab semua pertanyaan dalam dada ini dan ada yang memperdulikan keadaanku saat  ini, Aku butuh perhatian-Mu, Aku tengadahkan Muka dan kedua Tanganku kepada-Mu, Aku tidak bisa lagi mengontrol tangisanku yang bertambah keras, namun tidak ada sesuatupun yang bertanya akan kesedihan ini, Dinding, Lantai, Karpet Permadani masih saja dalam kebisuannya. Bahkan Orang-orang  disana tidak ada satupun yang menghiraukan.
“Ya Tuhan, kenapa Engkau pulangkan Hamba sebelum Hamba bisa melunasi hutang Ibu Hamba, apa yang   dilakukannya demi hamba, bukankah Engkau Maha tahu?!”,
“Kenapa Engkau pulangkan Hamba sebelum mewujudkan cita-cita Hamba untuk semua Keluarga Hamba agar bisa beribadah dibait-Mu, bukankah Engkau Maha tahu?!”,
 Kenapa Engkau berangkatkan Hamba bekerja ke Tanah Arab bila yang terjadi harus pulang tanpa membawa Kesuksesan, semoga hamba bisa tetap  tunduk dan pasrah pada-Mu”, Tuhan yang mengetahui segala Rahasia.
Airmata ini terus mengalir mengeluarkan suara sesenggukan yang semakin keras, Aku ingin rasanya menjerit sekeras-kerasnya namun Aku tidak mau disebut Orang Gila. Beberapa waktu kemudian pelan-pelan Aku mendapat sedikit ketenangan, kesejukan entah Aku tidak mengerti darimana asalnya, Aku berusaha untuk melihat Tuhan di Atap ruangan Musolla, walaupun Aku tahu Aku tidak mungkin bisa melihatnya tetapi Aku merasa yakin Tuhan melihatku dengan segala kesedihan ini. Tangisan dan sesenggukan berangsur-angsur mereda. Setelah Aku merasakan suara yang tidak dapat didengar oleh Indera Pendengaran melainkan  dapat dengan jelas dirasakan oleh Hati yang ada dalam Dada ini, “ada sesuatu yang akan terjadi, yang menjadikan kepulanganmu ini adalah sebagian kecil dari kebaikan Tuhanmu..!”  kalimat itu yang terbaca dalam Dada ini.
Ibuku langsung memelukku setelah Aku cium Tangannya, “Alhamdulillah kamu sudah sampai Nak, dengan selamat…!” sapanya, Airmata ini tidak tertahankan lagi untuk mengalir, pikiranku berkecamuk antara bahagia dan kecewa.  tiba lagi ditanah air, tetapi membawa kesedihan dan ketidak suksesan pulang seolah dipersembahkan kepada Ummi  Ibu tercinta yang melahirkanku, manusia yang paling menyayangiku, manusia yang menumbuhkan segala harapan dalam hidupku, yang selalu mendekapku saat pahit getir hidup melanda. “sudah..sudah, jangan menangis lagi..! jangan terlalu dipikirkan, Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik buat setiap Hambanya..!” kata Ummi sembari mengusap Punggungku.
Dipertengahan Bulan Romadhon saat puasa sudah ditunaikan selama lima belas hari pada Tahun dua ribu sepuluh, kurang lebih tiga bulan dari kepulanganku dari  Tanah Arab sesuatu itupun terjadi. Kejadian yang tidak pernah akan aku lupakan sepanjang hidupku, merasakan saat-saat terakhir dengan Ummi Ibuku, Dia menutup Mata untuk selama-lamanya, Terimakasih Tuhan Engkau berikan Aku kesempatan berada disisi Ummi Ibuku, pada saat-saat menjelang Ajalnya, betapa menyesalnya jika Aku masih tetap berada di Tanah Arab karena menunggu habisnya kontrak kerja dengan Majikan tanpa bisa merawat sedikitpun Orang yang paling Aku sayangi, Orang yang paling Aku cintai, Orang yang segala-galanya bagiku di Jagad Raya ini.
Dia sakit, sudah dua Rumah Sakit Ummi dirawat namun belum juga ada perkembangan sedikitpun, melihat Ummi yang selalu tegar, yang selalu kuat menjalani bagaimanapun beratnya hidup, Aku tidak percaya melihat kondisinya sekarang, terbaring tidak berdaya untuk bergerak sedikitpun, hatiku hancur berkeping-keping, Aku kalut, Aku hanya bisa menangis dan berdoa agar segera sembuh tetapi Tuhan jua yang menentukan kehendak-Nya. Aku tidak memiliki kuasa sedikitpun akan hidup ini, Aku peluk Tubuhmu, Aku cium Pipimu, Aku kecup Keningmu yang sudah terasa dingin, Aku gemetar, Lidahku kaku, Tubuhku panas serasa dipanggang di Bara Api, Aku tak percaya kenyataan ini, “jangan pergi dulu Ummi.. Aku belum membahagiakanmu..!” “Aku belum mintak maaf kepadamu..!” ucapku serak, Aku kosong, Mataku gelap seolah sukmaku lari sejauh-jauhnya tidak kuasa lagi menerima kesedihan yang sangat dahsyat ini, siapa lagi yang bisa menyayangiku sepertimu, siapa lagi yang bisa mencintaiku sepertimu, siapa lagi yang bisa mendekapku saat kesedihan itu datang. Itulah saat terakhir Aku melihat Ummi Ibuku, Aku akan selalu mendoakanmu Ummi, Aku akan selalu mengingatmu Ummi dengan segala kenangan indah bersamamu. Semoga Engkau mendapat tempat yang tinggi disisi-Nya. Selamat jalan Ummi, aku tidak akan pernah berputus asa menggapai mimpiku untukmu Ummi, beberapa bulan kemudian, akhirnya Aku bisa  melunasi hutang biaya keberangkatanku ke Arab. Aku yakin engkau juga bahagia disana akan hal ini.

kasih komentarx ya....Makasih mau baca cerpenku...

kuburan kakek

 
Cerpenku...
19 januari 2013,
KUBURAN KAKEK
Bismillahirrohmanirrohim,
Rasa ingin tahuku sangat besar tentang segalanya, Aku ingin tahu tentang semuanya, Dunia ini dan segala sesuatunya, khususnya yang berhubungan dengan alam Gaib yang terjadi di muka Bumi ini. Akan kesaktian-kesaktian yang pernah dimiliki para Raja pada zaman dahulu kala, entah itu kesaktian yang berasal dari suatu benda yang dimilikinya atau memang murni dari dirinya sendiri tanpa bantuan dari orang lain atau Mahluk Gaib.
Aku sering termenung akan sebuah Sosok yang di kagumi Kesaktiannya, Kecantikannya dan rayuannya, pikiranku menerawang dan Terbang menuju Laut luas Pantai selatan yang menjadi tempat persemayamannya namun Aku tidak pernah menangkap Keindahan, Kedamaian, ataupun Kesejukan dari melihat sebuah Lautan luas sebelah selatan Pulau Jawa itu. Tetapi gemuruh Ombak, hembusan Angin dari Lautan itu membuatku merinding, dan pikiranku menerawang lagi memasuki Alam Laut dengan kesunyian yang dalam namun Aku tidak menemukan sosok Wanita cantik itu. ya mungkin karena Aku tidak memiliki Ilmu Mata Batin yang sejak dulu Aku inginkan jadi wajar saja bila tidak melihat apa-apa kecuali Air yang penuh misteri. Puasaku telah selesai namun semua keinginanku tidak ada yang terpenuhi akan sebuah alam Gaib. Sehingga Aku buang jauh-jauh semua keinginan itu, Aku pendam rasa penasaranku, mungkin Tuhan belum mengizinkan untuk dapat mengetahui semua itu pikirku. Aku kembali ke Duniaku mengerjakan kembali Aktivitas yang seharusnya tidak Aku tinggalkan karena keinginan konyol itu.
Setelah Aku tidak lagi mengingat sudah beberapa puasaku berselang pada suatu malam Aku bermimpi berada di suatu tempat yang lapang lagi luas dan cukup terang, tidak ada Gunung , Pepohonan ataupun sesuatu yang lebih tinggi atau lebih rendah dari tempat Aku berada semuanya terlihat rata sejauh Mata memandang sungguh terlihat tempat yang sangat asing bagiku, Aku berdiri sendirian tanpa ada yang menemani ataupun melihat seseorang disana, Aku bingung, dimanakah Aku berada, dan kenapa tidak ada Orang samasekali, keringat mulai keluar dari sekujur tubuh ini bukan karena gerah atau panas tapi rasa takut yang sangat, apakah Aku telah mati ? “Tidak..! Aku belum mau mati..!” kataku keras, hingga Aku terbangun dari tidurku nafasku terasa sesak, dengan Keringat yang bercucuran keluar membasahi Bajuku. Terasa lebih ringan karena semua itu hanya Mimpi tapi Aku tidak bisa membuangnya dan melanjutkan tidurku, semuanya masih terbayang dengan jelas hingga Aku tidak bisa lagi tidur. Mungkinkah itu semua adalah alam Ghaib, Aku termenung, matahari tak terasa sudah terbit, mimpi itu selalu membayangiku, sejak saat itu Aku tidak bisa lagi mengerjakan sesuatu secara maksimal.
Beberapa malam kemudian, di malam jumat setelah Aku mengerjakan semua prku, Aku beranjak untuk tidur walau mata tidak ada rasa kantuk sama sekali takut besok bangun kesiangan pikirku,tak terasa sudah terasa sepi namun Aku belum juga bisa tidur walau Aku paksakan memejamkan mata ini yang ada malah terasa gerah, panas berada di atas kasur, kemudian bayangan mimpi itu datang lagi, berusaha untuk membuang ingatan itu malah tambah jelas mimpi itu teringat, kemudian Aku pergi mengambil Wudhu untuk Sholat dengan maksud agar hilang bayang-bayang mimpi itu dan bisa tidur tapi setelah Aku mengerjakan Sholat  dua rokaat ada suara yang terdengar sayup-sayup, Aku berkeringat lagi, Bulu kudukku merinding, Tubuhku terasa panas dingin dan nafasku terasa menderu Aku lihat segala arah Ruangan itu untuk mencari asal suara tapi suara itu bukan dari sana, Aku buang pikiran macam-macamku mungkin halusinasiku saja pikirku. Tapi suara itu terdengar lagi lebih keras dan lebih keras lagi, suara Orang yang terdengar sudah sangat tua. Tetapi juga bukan suara nenekku “keluarlah dari kamarmu..!” begitulah suara itu ter dengar, Aku cari lagi asal suara itu yang terdengar sangat dekat, Aku terperanjat serasa tak sanggup bergerak lagi, sadar akan suara itu Aku dengar dari diriku sendiri. “keluarlah dari kamarmu..!” suara itu untuk ketiga kalinya terdengar sangat dalam, Aku berusaha untuk tetap tenang walau nafasku kian memburu, beranjak dari tempat Sholatku berjinjit perlahan menuju Pintu keluar, dan pelan-pelan kubuka Daun Pintu Kamarku, Mataku terbelalak lebar, nafasku berat, Kaki bergetar serasa tak kuat lagi menyanggah Tubuh ini Aku pegang erat Ganggang Pintu agar tidak jatuh, Jantungku berdetak keras tak percaya semua ini, Kuburan ada didepan Pintu Kamarku, Aku tidak percaya aku gosok Mataku beberapa kali tapi yang Aku lihat tidak berubah tetap Kuburan tetapi bukan disitu saja Kamar nenekku, Ruang tamu, Halaman semuanya berubah menjadi Kuburan Aku lihat Kamarku, ya Aku masih dapat melihatnya. Tidak terasa Aku menangis bingung, menjerit sekeras-kerasnya “Aku dimana..!” berulang kulakukan itu tetapi tidak ada yang menjawabku kemudian Aku melangkah keluar dari Kamarku dan setelah kedua Kakiku berada di luar Kamar dengan sekejab Kamarku menghilang dan seketika itu Tubuhku terasa aneh seperti kesetrum Listrik tapi itu terasa sebentar dan sangat cepat. Aku melihat sekeliling yang tampak terlihat hanya Kuburan yang sangat banyak, keadaanya tak begitu terang tapi cukup jelas melihat barisan Batu nisan yang sudah tak terawat dan kelihatan sudah sangat tua. Aku hanya bisa pasrah, Aku melihat sebuah Pohon besar yang tidak asing lagi di Mataku, ya Aku ingat Pohon itu berada tidak terlalu jauh dari Rumahku di seberang Jalan disana, Pohon yang terlihat sangat kokoh dengan Daun yang rimbun penuh misteri. Tidak ada suara sama sekali, sunyi, sepi dinginnya Angin berhembus seolah menyambut kedatanganku. Aku terus melangkah sambil memperhatikan satu demi satu Kuburan itu dengan masing masing Batu nisannya. Keringat dingin terus bercucuran dari Kening , Hidung, Leher. Aku lihat sejauh-jauhnya mencari tempat keluar dari Kuburan ini namun yang terlihat hanya Kuburan saja tidak ada batasnya sejauh mata memandang hanya Kuburan. Aku tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun, pikiranku melayang  ingin kembali pulang saja tapi kemana karena yang terlihat Kuburan saja, tidak ada yang lain. Kamarku sudah tidak tampak lagi, Aku bingung dan sangat terkejut melihat Asap tipis keluar dari Kuburan tua dengan Batunisan yang terbuat dari Kayu yang telah lapuk dengan Tanah yang tidak lagi mengunduk melainkan berlobang besar seolah pernah terjadi amblas, Asap itu terus melayang-layang di depanku seolah tahu kebingunganku ini, Aku takut,  engkau Roh Orang yang telah mati,” Aku tidak mungkin bertatapan langsung dengannya”, kataku dalam Hati, Tubuhku gemetar,  sangat berat untuk bergerak, nafasku memburu, ingin menjerit minta tolong tetapi tidak bisa, siapa juga yang akan menolongku tidak ada seorangpun yang kutemui disini. Aku cubit Tanganku agar bangun dari tidurku namun Aku sadar tidak sedang bermimpi karena tidak kuasa dengan keadaan ini Air mataku keluar lagi berusaha menjerit tapi Tenggorokanku tidak mengeluarkan suara sedikitpun hanya getaran yang sangat menyakitkan dikerongkongan. “Tidak usah menangis..!” suara yang terdengar datar dan menyeramkan membuatku tersentak, Aku berusaha menguasai keadaanku tetapi tidak bisa hingga membuatku  ambruk duduk lunglai. “Bukankah ini yang kamu inginkan..?” Aku tahu suara itu terdengar dari asap yang terus melayang-layang mengitari tubuhku. “Tidak ..!” jawabku spontan “Aku tidak pernah menginginkan hal yang seperti ini..!” rengekku dengan tangisan yang terdengar berat, tangisan putus asa. “hai Anak muda kamu pernah meminta pada Tuhanmu agar kamu bisa melihat alam Ghaibkan..?” kata suara itu keras, ya Aku ingat itu Lidahku kaku,tetapi  Aku tidak ingin mengakuinya, Aku terus berdoa dalam Hati “tapi bukan yang begini..!” kataku berusaha menjelaskan, “seandainya diperlihatkan kepadamu sebuah Kemegahan, Kemewahan, dan Kecantikan kamu akan terperdaya dan lupa akan Tuhanmu..! dan masih ingatkah kamu di akhir doamu agar semua itu bisa menambah kokohnya Imanmu..! Jadi kamu sangat beruntung di perlihatkan Alam ini. Agar kamu ingat kematian yang merupakan awal untuk bertemu Tuhanmu..!” kemudian tidak terdengar lagi suara setelah Asap itu menghilang. Aku menggigil  seakan tidak percaya semua ini, Aku berusaha beranjak dari dudukku berdiri melangkah walau terasa sangat berat. Ada sebuah Kuburan dari salah satu barisan pada barisan ketiga dari hadapanku menyita perhatianku, sebuah kuburan yang terlihat sangat tua tanpa Batunisan dengan gundukan Tanahnya yang retak dibagian tengahnya yang cukup lebar, seperti Kuburan yang aku jumpai pertama, sesaat setelah aku benar-benar berada di hadapan Kuburan itu Asap tipis keluar dari celah retakan gundukan Kuburan  yang kemudian melayang-layang di Udara seolah tahu kedatanganku. “Sungguh kamu sangat beruntung wahai Anak muda..!” suara itu terdengar gemetar dan penuh penyesalan, “Aku melihat Cahaya dari Tubuhmu, mungkin karena kamu selalu mengingat Tuhanmu..!” terdengar beberapa saat kemudian sembari  melihat Tubuhku sendiri namun tidak melihat sesuatu seperti yang Aku dengar dari suara itu. “Tidak seperti dimasa hidupku dahulu, Aku lalai akan Tuhan, Aku lalai akan Kematian, Kuburan, dan siksanya, padahal Tuhan sangat mengasihiku dengan segala Anugerahnya mulai dari Aku dilahirkan dari keluarga yang Kaya Raya, Wajah Rupawan dan Tubuh yang bagus dan tanpa cacat sedikitpun hingga Aku dijuluki Bidadari Surga dan tentu bangga dan sangat tersanjung akan semua itu. Tidak saja perempuan yang cemburu akan Kecantikanku atau cemburu bila pasangannya bersamaku walau sekedar pandangannya saja tetapi para lelakinya juga cemburu bila ada lelaki lain bersamaku.  Aku Bintang yang sinarnya sangat terang hingga lupa yang suatu saat redup dan kemudian mati. Lupa akan Orang tuaku yang telah membesarkanku dan selalu memberikan yang terbaik untukku dalam segala hal, Aku tidak pernah menghiraukannya karena sibuk dengan Kecantikanku, sibuk dengan lelaki yang semuanya tergila-gila kepada Tubuh dan kecantikanku hingga kematian kedua Orang tuaku tidak lagi sebuah duka melainkan sebaliknya sebuah awal petualangan sahwatku dimulai bebas tanpa ada lagi yang dapat membatasi untuk melakukan segala kesenanganku sesuka Hatiku dimanapun dan bersama siapapun. Aku tidak pernah bersyukur akan Anugerah fisik yang terbaik yang telah Aku terima dan tidak pernah maumemikirkan semua itu walau sudah banyak memperingatkanku termasuk Ibuku sewaktu masih hidupnya, Aku tidak mau membuang waktu tanpa kesenangan, Aku perempuan pengumbar Nafsu, tidur dengan banyak lelaki yang Aku inginkan bahkan Aku juga lupa siapa saja yang telah merasakan kehangatan Tubuhku, tetapi ada seorang lelaki yang tak pernah akan aku lupakan, dengan Uangku Aku bisa melakukan segalanya termasuk menyuruh Orang untuk menyeret lelaki yang yang Aku inginkan keranjangku tetapi dia beda, waktu itu dia berdiri melangkah menghampiriku menjulurkan mukanya dengan nafas yang memburu karena memang tubuhku tanpa sehelai benangpun berada di hadapannya dia sangat kuat membuatku penasaran tetapi dia bukan menciumku melainkan membisikkan “maukah kamu menikah denganku..? hingga tubuh itu halal bagiku disisi Tuhanku..!” dengan hembusan nafasnya menyambar di telingaku membuat hasratku melayang, Aku menyetujui keinginannya tetapi dia tidak mau menerima syarat yang aku ajukan agar tidak melarangku tidur dengan lelaki yang aku inginkan. Dia Cuma tertawa  sinis dan aku merasa terhina mendengarnya hingga pikiran busukku terlintas untuk merayunya, memuaskannya, bersenang-senang dengannya tanpa harus menikah, lelaki sok alim, sok suci, sok pahlawan dengan segala macam rayuanku dan segala macam pemaksaan yang aku lakukan dia tetap bisa mengendalikan keadaannya bisa menghindar dariku dan akhirnya dia keluar dan pergi tanpa menyetuh Tubuhku sedikitpun membuatku sangat kecewa, namun sebelum kepergiannya lelaki itu sempat berkata “kamu akan menyesal, kecantikanmu akan segera pergi!” aku merasa sedih mendengarkan ucapanya tetapi aku tetap kembali kealam hitamku setelah beberapalama kemudian tidak ada lagi yang memanggilku Bidadari, si cantik dan segala ucapan baik melainkan si peot, nenek jelek dan ucapan-ucapan buruk untukku saat aku sakit tidak ada lagi mau merawatku, hartaku telah habis entah kemana tinggal Ranjang dimana aku berbaring sakit, aku memikirkan seorang Anak tetapi semuanya telah terlambat semuanya berlalu sangat cepat. Aku ingat lelaki yang mengajakku menikah aku hanya meratap di ranjangku, Ranjang kesayanganku yang merupakan saksi bisu pada saat-saat merengkuh kenikmatan dengan setiap lelaki yang menjadi korban hasratku, Ranjang yang kini tidak terlalu kuat lagi menahan goyangan seperti halnya diri ini yang telah renta dan sudah tidak cantik lagi, menyisakan kerutan dosa yang sangat banyak lagi besar. Aku kini hanya bisa menyesali semuanya, kedua Orang tuaku yang aku sia-siakan kini Aku merindukan kalian, lelaki yang menghargaiku untuk menjadikanku istri,dan mungkin Aku akan memiliki Anak, semua kesempatan baik itu telah terbuang begitu saja, yang pada awalnya Aku anggap akan merepotkanku karena harus mengurusi semuanya hingga waktu bersenansenangku hilang, tapi kenyataannya malah sebaliknya kini Aku sadar penyesalanku tidak ada artinya sama-sekali karena semuanya telah pergi dan tidak akan bisa kembali lagi, Aku hanya bisa menangis pilu, ingin berdoa tapi malu pada Tuhanku, Aku tidak pernah mengingat-Nya saat suka, saat bahagia Aku tidak pernah menghadap-Nya walau begitu Aku masih berharap Dia mengampuniku. Saat Aku tidak bisa lagi melangkah walau sekedar mengambil Makanan atau kekamar kecil  Aku hanya bisa pasrah dan berharap Tuhan segera memanggilku dan saat itu juga ada suara kayu patah hingga membuatku jatuh terlempar dan terguling dengan selimut yang penuh dengan kotoran dan kencingku sendiri yang waktu dulu Aku sering menghina dan mengolok-ngolok orang yang kelihatan kotor, Aku tersungkur dan berusaha melihat ranjang kesayanganku yang kini tak kuat lagi menahan beban tubuhku yang kemudian amruk setelah kaki ranjang itu patah mungkin sudah terlalu tua atau terlalu beratnya beban dosa ditubuh ini, nafasku sesak lidahku terasa kaku mungkin akibat jatuh tadi pikirku, Aku bermaksud membuka Selimut yang melilit Badanku karena jatuh terguling tadi namun Tanganku tidak bisa digerakkan sedikitpun sebelum sempat menyentuh Selimut yang mengeluarkan bau karena kotoran dan kencingku, Aku bingung  kemudian mencoba untuk menggerakkan Kakiku tetapi sama saja tidak bisa bergerak sedikitpun, mataku kini berkunang kunang kemudian gelap saat itulah aku sadar bahwa telah dekat Ajalku dan itupun terjadi. Rohku di cabut-Nya dari Kemaluanku sakitnya teramat dahsyat sebelum Roh itu benar-benar keluar, dilepaslah hingga Roh itu kembali lagi keraganya kemudian di tariknya lagi seperti pertama dilakukan berulang ulang. Tubuhku hancur seolah Kulitku di bukanya dipisahkan dari Dagingnya yang teramat sakit hingga Aku tidak bisa menggambarkan rasa sakitnya. Darahku muncrat keseluruh ruangan dengan bau busuk saat Rohku benar benar keluar dari ragaku dan diseret dengan jambakan yang sangat keras di Rambutku yang waktu hidupku sangat menyayangi rambut itu. Tidak ada yang mengetahui kematianku hingga jasadku benar-benar jadi bangkai di penuhi belatung dan mengeluarkan bau busuk barulah tetanggaku mengetahuinya kemudian menguburku mereka semua mencaci tubuhku tidak ada rasa iba sedikitpun walau salah satu dari mereka pernah meniduriku, aku di kubur begitu saja tanpa dimandikan ataupun dikafani terlibih dahulu, penguburan tubuhku seperti hewan dengan wajah mereka yang sangat terpaksa, padahal waktu itu aku berada disana melihat semuanya dengan menangis, sedih yang sangat, namun semua itu karena perbuatanku sendiri semasa hidup tidak pernah menghadap Tuhanku dengan jasad ini walau sekali atau bersuci dari segala kotoran dosa-dosa yang pernah aku perbuat. Tidak pernah ada yang mendoakanku, berilah aku doamu wahai anak muda!”. Pintanya kemudian Asap itu terbang menghilang menyisakan tangisan seorang Wanita yang berdukalara penuh penyesalan yang terus menggema yang kian lama kian menghilang. Aku sangat terharu dari cerita perempuan tadi, Aku telah bisa menguasai keadaan tubuhku kemudian kucoba melangkah pelan dan tidak terlalu jauh dari kuburan perempuan tadi mataku bertumpu pada sebuah kuburan yang jauh kelihatan bagus rumput tumbuh seragam diantara remang malam, “pasti sangat sempurna bila dilihat pada siang hari dan siapakah gerangan yang dikubur didalamnya”, suaraku berbisik, seolah penghuni kubur itu tahu akan penasaran yang aku rasakan kemudian muncullah asap putih seolah bersinar dan tidak akan merasa takut bagi yang melihatnya. “Assalamualaikum wahai saudaraku..!” sungguh  sangat jelas mendengar salamnya, “wahai saudaraku Aku Cuma ingin berpesan agar kamu bersabar dan bersabar menjalani segala hal kehidupan, sabar bila mendapat ujian kekurangan, kelaparan atau kekayaan, dan juga bersabar akan kemaluanmu agar menjaganya dari hal yang diharamkan, karena Tuhan selalu bersama orang yang sabar, itu saja pesanku wassalam”, kemudian melesat  kembali menghilang entah kemana. Perasaan takutku kini hilang kulanjutkan langkahku menyusuri barisan kuburan, Aku ingat rumah , Aku capek ingin pulang kemudian berbalik memutar arah tapi Aku terkejut, bingung Aku tetap berjalan kedepan, Aku coba lagi namun sia-sia juga langkahku tetap di tempat semula tak pernah berbalik. Aku takut tidak bisa pulang hanya  menangis dan menangis yang aku bisa lakukan dan sungguh membuatku kaget  diantara suara tangisanku ada suara tangisan lain membuatku terdiam mencari suara itu telingaku tidak menemukan suara tangisan itu, kulihat sekeliling tidak ada sesuatu kecuali barisan batu nisan yang membentang sejauh-jauhnya. Ada asap lagi terbang kemudian memutar-memutar kemudian terbang lagi menjauhiku kedepan, entah kenapa Aku ingin mengikutinya dan terus mengikutinya, kemudian asap itu berhenti di salah satu kuburan mewah dengan Batu nisan Marmer dengan altar kuburan yang terbuat dari Marmer pula yang kelihatan cukup menawan. “kesunyian dan kesepian di atas kuburan tidaklah sama bila dibandingkan dengan didalamnya”, itulah suara dari asap kuburan bagus tadi, “beruntunglah kamu yang masih hidup dengan masa tobat yang panjang dengan waktu mengumpulkan amal baik masih panjang pula, janganlah seperti diriku yang menyia-nyiakan hidupku. Waktu aku hidup aku dipercaya khalayak dan aku memanfaatkan kepercayaan itu untuk kepentingan pribadiku, bahkan aku telah menghinakan diriku sendiri dengan seringnya berbuat segala dosa tetapi doa dan maaf dari istrik dan anakku menjadi memperingan keadaanku, bila engkau kembali nanti salam untuk istriku dan anakku Rashid dia masih hidup nama istriku itu Salma kemudian suara itu menjauh, sebelum menghilang aku memanggilnya “bolehkah aku bertanya?” kataku berusaha “kuburan yang mana, yang paling terang sinarnya, paling harum wanginya, dan paling tentram penghuninya ?” tanyaku ingin tahu “di sana sebelah pohon itu ada sebuah kuburan sederhana dengan nisan yang memakai kayu dengan gundukan tanahnya dipenuhi dengan batu kerikil kecil penuh dengan doa hadiah dari cucunya..!” jawabnya jelas kemudian asap itu menghilang. Aku melangkah menuju sebuah Pohon yang disebut tadi dan menemukan kuburannya dan ternyata benar ada sebuah kuburan di sebelah Pohon besar itu aku melihatnya persis seperti yang di sebutkan nisan dari kayu dengan gundukan tanah yang di penuhi batu kerikil kecil tapi Aku tidak tahu didalamnya ada doanya atau tidak, Aku melangkah menghampiri kuburan itu “sepertinya kuburan ini tidak asing lagi sebagaimana Pohon itu di mataku” gumamku dalam hati, belum sempat Aku berfikir tubuhku terasa aneh, Aku merasa sakit solah semua tulangku patah dan seperti kesetrum listrik dan seketika itu mataku menjadi gelap.
“Jalil…Jalil..bangun..!” sambil menepuk-nepuk punggungku, “hei..ngapain kamu tidur di kuburan kakekmu..?”  kata nenekku heran sambil menebar bunga di atas kuburan yang penuh batu kerikil kecil itu. “Aku kira kamu masih tidur dikamar..!”, kata nenek dengan suara khasnya. Aku tidak menghiraukannya seluruh Tubuhku sakit kemudian Aku beranjak berdiri, mengingat lagi kejadian tadi malam, mataku berhenti di sebuah Pohon besar di hadapanku, aku mengingatnya. “Aku lupa kemaren sore tidak menziarahi kuburan kakekmu, jadi ya pagi ini..!” suara nenek membuyarkan lamunanku, nenek menjelaskan dengan senyum yang masih tetap manis. Aku melihat sekeliling tidak tampak seperti tadi malam, indahnya pemandangan Gunung, kicauan Burung menyadarkanku bahwa Aku telah kembali keduniaku. “ kok bisa kamu ketiduran di situ sih, kapan kamu keluar dari rumah..?” tanya nenek heran, “nenek tahu perempuan yang namanya Salma dia punya anak namanya Rashid tapi suaminya meninggal ..?” aku balik tanya, nenek menatapku sangat dalam, kemudian tersenyum lagi “itu kan bibikmu, yang biasa kamu panggil bibikma nama sebenarnyakan salma.. yang mengajari mu bertasbih dan berdzikir kemudian di tiupkan pada batu-batu kerikil agar doa atau dzikir itu bisa menolong yang telah mati bila di taruh diatas kuburan orang yang kita sayangi, trus anaknya Rashid tinggal di pesantren sambil membantu mengajar disana.” nenek menjelaskan, kemudian nenek terus melontarkan banyak pertanyaan tentang hal yang aku tanyakan, “ceritanya panjang nek.. mending kita pulang dulu entar Aku ceritakan dirumah..!”, kataku alasan, sambil mencari beberapa batu kecil untuk Aku beri dzikiran serta doa untuk aku hadiahi pada kuburan seorang wanita yang meminta didoakan tadi malam walau Aku tidak begitu mengingat letak kuburannya tapi yang pasti dan yakin doaku akan tersampaikan untuknya kemudian kami berdua melangkah meninggalakan perkuburan itu yang tidak terlalu jauh dari rumah kami.
                                     
Terimakasih mau baca Cerpenku....